Kemenhut Percepat Pemanfaatan Kayu Hanyutan untuk Pemulihan Pascabanjir Aceh dan Sumut

Artikel | Kamis, 08 Januari 2026

Share This :

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Sumatra Utara (Sumut) sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan masyarakat terdampak banjir.

Di Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 85 personel Kemenhut bersama 10 personel Saka Wanabakti melanjutkan aksi bersih fasilitas umum dan pembersihan kayu hanyutan di Kecamatan Langkahan. Kegiatan ini difokuskan pada pemilahan kayu layak guna agar dapat segera dimanfaatkan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Kemenhut, Subhan, menyampaikan bahwa pemilahan kayu dilakukan langsung di lokasi terdampak untuk mempercepat pemanfaatannya bagi masyarakat.

“Kayu hanyutan kami pilah di halaman rumah warga dan di sungai mati untuk dimanfaatkan, terutama mendukung pembangunan hunian sementara,” ujar Subhan dalam keterangannya di Jakarta, pada Kamis (8/1/2026).

Untuk mendukung kegiatan tersebut, dikerahkan sebanyak 37 unit alat berat, terdiri dari 30 unit milik Kemenhut, enam unit dari TNI, serta dukungan alat berat dan dump truck dari Kementerian PUPR. Selain itu, pengukuran kayu dilakukan oleh Tim BPHL dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, dengan hasil hingga 7 Januari 2026 mencapai 652 batang atau setara 1.101,34 meter kubik (m3).

Pemanfaatan kayu hanyutan juga melibatkan lembaga kemanusiaan. Rumah Zakat memanfaatkan sekitar 7,15 m3 kayu untuk kebutuhan masyarakat dengan dukungan gergaji mesin dan sawmill berjalan. Secara akumulatif, sejak 29 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, pemanfaatan kayu diperkirakan mencapai 32,5 m3. Hingga saat ini, tiga unit hunian sementara sedang dibangun dan satu unit telah selesai.

Selain fokus pada kayu hanyutan, tim Kemenhut dan Saka Wanabakti juga melakukan pembersihan fasilitas pendidikan, antara lain membersihkan lima ruangan di SMPN 3 Langkahan yang terdampak banjir.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, tim Kemenhut melakukan pengawasan terhadap lokasi tumpukan kayu yang telah diukur, pembersihan sarana dapur umum bagi korban banjir, serta kegiatan bersih lingkungan di rumah warga terdampak.

Di Sumatera Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terukur dan diawasi ketat.

“Kayu hanyutan diarahkan untuk kebutuhan pemulihan warga, termasuk bahan pembangunan hunian sementara,” kata Novita.

Pembersihan kayu hanyutan di Sumatera Utara melibatkan tujuh unit alat berat Kemenhut. Tim gabungan UPT Kemenhut juga melakukan penghitungan kayu olahan di Desa Garoga, dengan hasil pada 7 Januari 2026 sebanyak 135 keping kayu olahan beragam ukuran dengan volume total 1,8936 m3. Secara akumulatif, jumlah kayu olahan mencapai 565 keping dengan volume 8,8475 m3.

Selain pemanfaatan kayu hanyutan, Kemenhut juga terus melakukan pembersihan fasilitas umum dan penataan lingkungan sebagai bagian dari percepatan pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh dan Sumut.

 

© 2026 Kab. Tapanuli Selatan
| Situs Resmi Pemerintah Kab. Tapanuli Selatan